KEMISKINAN DAN KESENJANGAN
NAMA
: MOCHAMMAD ZAKI
NPM
: 24215241
KELAS
: 1EB14
1.
KONSEP
DAN PENGERTIAN KEMISKINAN
PENGERTIAN
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa
untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum,
hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga
berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu
mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai
warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang "miskin".
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang "miskin".
Secara etimologis, “kemiskinan” berasal dari kata “miskin” yang artinya
tidak berharta benda dan serba kekurangan. Departemen Sosial dan Badan Pusat
Statistik mendefinisikan kemiskinan dari perspektif kebutuhan dasar. Kemiskinan
didefinisikan sebagai ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar
minimal untuk hidup layak (BPSdan Depsos, 2002). Lebih jauh disebutkan
kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada dibawah garis nilai standar
kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non-makanan yang disebut garis
kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty treshold).
KONSEP KEMISKINAN
Menurut David Harry Penny (1990:140) konsep kemiskinan dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.
·
Kemiskinan absolut
dalam kaitannya dengan suatu sumber-sumber materi, yang dibawahnya tidak ada
kemungkinan kehidupan berlanjut; dengan kata lain hal ini adalah tingkat
kelaparan.
·
Kemiskinan relatif
adalah perhitungan kemiskinan yang didasarkan pada proporsi distribusi
pendapatan dalam suatu negara.
World Bank (BPS dalam Haryati, 2003:95) menyusun ukuran kemiskinan relatif
yang sekaligus digunakan untuk mengukur tingkat pemerataan, yaitu dengan
membagi penduduk menjadi tiga kelompok:
1.
40% penduduk
berpendapatan rendah
2.
40% penduduk
berpendapatan menengah
3.
20% penduduk
berpendapatan tinggi.
2.
GARIS
KEMISKINAN
Konsep Definisi
Garis Kemiskinan
merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2100 kilokalori per
kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.
Rumusan

Kegunaan
Untuk mengukur beberapa
indikator kemiskinan, seperti jumlah dan persentase penduduk miskin (headcount
index-Po), indeks kedalaman kemiskinan (poverty gap index-P1), dan indeks
keparahan kemiskinan (poverty severity index-P2)
Keterangan Tambahan
Selain dari Susenas
Modul Konsumsi dan Kor, variabel lain untuk menyusun indikator kemiskinan
diperoleh dari Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar (SPKKD).
Interpretasi
Garis kemiskinan
menunjukkan jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
pokok minimum makanan yang setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari
dan kebutuhan pokok bukan makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran
konsumsi per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan dikategorikan sebagai
penduduk miskin.
3.
PENYEBAB
DAN DAMPAK KEMISKINAN
Penyebab dan Dampak Kemiskinan
Menurut Sharp et al.
(2000), kemiskinan terjadi dikarenakan beberapa sebab yaitu:
A. Rendahnya kualitas angkatan
kerja.
B. Akses yang sulit terhadap
kepemilikan modal.
C. Rendahnya masyarakat terhadap
penguasaan teknologi.
D. Penggunaan sumber daya yang
tidak efisien.
E. Tingginya pertumbuhan penduduk.
Dampak
akibat kemiskinan yang terjadi di Indonesia, sebenarnya begitu banyak dan
sangat kompleks. Diantaranya adalah:
A. Penggangguran.
Jumlah
pengganguran yang terjadi pada awal tahun 2011 mencapai 8,12 juta orang. Angka
penggangguran ini cukup fantatis, mengingat krisis multidimensional yang sedang
dihadapi oleh bangsa saat ini. Banyaknya penggangguran, berarti mereka tidak
bekerja dan otomatis mereka tidak mendapatkan penghasilan. Dengan tidak bekerja
dan tidak mendapatkan penghasilan, mereka tidak data memenuhi kebutuhan
hidupnya. Secara otomatis, pengangguran menurunkan daya saing dan beli
masyarakat.
B. Kekerasan.
Kekerasan
yang terjadi biasanya disebabkan karena efek pengangguran. Karena seseorang
tidak mampu lagi mencari nafkah yang benar dan halal.
C. Pendidikan.
Mahalnya
biaya pendidikan, mengakibatkan masyarakat miskin tidak dapat menjangkau dunia
sekolah atau pendidikan. Akhirnya, kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk
lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahnya tingkat
pendidikan seseorang. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat
tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala
bidang.
D. Kesehatan.
Biaya
pengobatan yang terjadi pada klinik pengobatan bahkan rumah sakit swasta besar
sangat mahal dan biaya pengobatan tersebut tidak terjangkau oleh kalangan
masyarakat miskin.
E. Konflik
sosial bernuansa SARA.
Konflik SARA
terjadi karena ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi kemiskinan yang
semakin hari semakin akut. Hal ini menjadi sebuah bukti lain dari kemiskinan
yang kita alami. Terlebih lagi fenomena bencana alam yang sering terjadi di
negeri ini, yang berdampak langsung terhadap meningkatnya angka kemiskinan.
semuanya terjadi hamper merata di setiap daerah di Indonesia, baik di pedesaan
maupun diperkotaan.
4.
PERTUMBUHAN
, KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
Pertumbuhan,
Kesenjangan, dan Kemiskinan
1. Hubungan
antara Pertumbuhan dan Kesenjangan :
a. Hipotesis
Kuznets. Hipotesis Kuznets timbul setelah dia melakukan penelitian di beberapa
negara secara time series. Dari penelitian tersebut ditemukan hubungan
kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan per kapita dalam kurva yang
berbentu huruf U terbalik. Kurva tersebut menggambarkan terjadinya evolusi dari
distribusi pendapatan dalam proses transisi dari ekonomi pedesaan (pertanian)
ke ekonomi perkotaan (industri).
2. Hubungan
antara Pertumbuhan dan Kemiskinan
a. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pertumbuhan output
agregat atau PDB atau PN maupun pertumbuhan output sektoral terhadap
pengurangan jumlah orang miskin. Ravallion dan Datt (1996) di India : menemukan
bahwa pertumbuhan output di sektor-sektor primer (pertanian) jauh lebih efektif
terhadap penurunan kemiskinan dibandingkan sektor-sektor sekunder. Kakwani
(2001, Filipina) : peningkatan 1% output di sektor pertanian dapat mengurangi
jumlah org yg hidup di bwh garis kemiskinan sedikit di atas 1%. Sedangkan %
pertumbuhan yg sama di sektor industri dan jasa hanya mngakibatkan pengurangan
kemiskinan 0,25 – 0.3%.
5.
BEBERAPA
INDIKATOR KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
A. Indikator kesenjangan
Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance. Yang sering digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yaitu:
• The Generalized Entropy(GE)
• Ukuran Atkinson
• Koefisien Gini.
Yang paling sering dipakai adalah koefisien gini. Nilai koefisien gini berada pada 0-1.
Bila 0 : kemerataan sempurna (setiap orang mendapat porsi yang sama daripendapatan)
Bila 1 : ketidak merataan yang sempurna dalam pembagian pendapatan.
Ide dasar dari perhitungan koefisien gini berasal dari Kurva Lorenz. Semakin tinggi nilai rasio gini, yakni mendekati 1 atau semakin jauh kurva lorenz dari garis 45 derajat tersebut, semakin besar tingkat ketida kmerataan distribusi pendapatan.
• Ketimpangan dikatakan sangat tinggi apabilai nilai koefisien gini berkisar antara 0,71-1,0.
• Ketimpangan dikatakan tinggi dengan nilai koefisien gini 0,5-0,7.
• Ketimpangan dikatakan sedang dengan nilai koefisien gini antara 0,36-0,49.
• Ketimpangan dikatakan rendah dengan nilai koefisien gini antara 0,2-0,35.
Selain alat ukur diatas, cara pengukuran lainnya yang juga umum digunakan, terutama oleh Bank Dunia adalah dengan cara jumlah penduduk dikelompokkan menjadi tiga grup :
1. 40% penduduk dengan pendapatan rendah,
2. 40% penduduk dengan pendapatan menengah,
3. 20% penduduk dengan pendapatan tinggi dari jumlah penduduk.
Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance. Yang sering digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yaitu:
• The Generalized Entropy(GE)
• Ukuran Atkinson
• Koefisien Gini.
Yang paling sering dipakai adalah koefisien gini. Nilai koefisien gini berada pada 0-1.
Bila 0 : kemerataan sempurna (setiap orang mendapat porsi yang sama daripendapatan)
Bila 1 : ketidak merataan yang sempurna dalam pembagian pendapatan.
Ide dasar dari perhitungan koefisien gini berasal dari Kurva Lorenz. Semakin tinggi nilai rasio gini, yakni mendekati 1 atau semakin jauh kurva lorenz dari garis 45 derajat tersebut, semakin besar tingkat ketida kmerataan distribusi pendapatan.
• Ketimpangan dikatakan sangat tinggi apabilai nilai koefisien gini berkisar antara 0,71-1,0.
• Ketimpangan dikatakan tinggi dengan nilai koefisien gini 0,5-0,7.
• Ketimpangan dikatakan sedang dengan nilai koefisien gini antara 0,36-0,49.
• Ketimpangan dikatakan rendah dengan nilai koefisien gini antara 0,2-0,35.
Selain alat ukur diatas, cara pengukuran lainnya yang juga umum digunakan, terutama oleh Bank Dunia adalah dengan cara jumlah penduduk dikelompokkan menjadi tiga grup :
1. 40% penduduk dengan pendapatan rendah,
2. 40% penduduk dengan pendapatan menengah,
3. 20% penduduk dengan pendapatan tinggi dari jumlah penduduk.
B. Indikator kemiskinan
Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS, 1994). Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kalori per hari. Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa.
BPS menggunakan 2 macam pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach)
2. Pendekatan Head Count Index
garis kemiskinan terdiri dari 2 komponen, yaitu
1. garis kemiskinan makanan (food line) dan
2. garis kemiskinan non makanan (nonfoodline).
Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS, 1994). Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kalori per hari. Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa.
BPS menggunakan 2 macam pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach)
2. Pendekatan Head Count Index
garis kemiskinan terdiri dari 2 komponen, yaitu
1. garis kemiskinan makanan (food line) dan
2. garis kemiskinan non makanan (nonfoodline).
6.
KEMISKINAN
DI INDONESIA
permasalahan yang harus
dihadapi dan diselesaikan oleh pemerintah indonesia saat ini adalah kemiskinan,
disamping masalah-masalah yang lainnya. dewasa ini pemerintah belum mampu
menghadapi atau menyelesaikan permasalahan kemiskinan.
Menurut Remi dan Tjiptoherijanto (2002:1) upaya
menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia telah dimulai awal tahun 1970-an
diantaranya melalui program Bimbingan Masyarakat (Bimas) dan Bantuan Desa
(Bandes). Tetapi upaya tersebut mengalami tahapan jenuh pada pertengahan tahun
1980-an, yang juga berarti upaya penurunan kemiskinan di tahun 1970-an tidak
maksimal, sehingga jumlah orang miskin pada awal 1990-an kembali naik.
Disamping itu kecenderungan ketidakmerataan pendapatan nasional melebar yang
mencakup antar sektor, antar kelompok, dan ketidakmerataan antar wilayah.
berdasarkan data
Bank Dunia jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 2002 bukanlah 10 sampai
20% tetapi telah mencapai 60% dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 215
juta jiwa.
Hal ini diakibatkan
oleh ketidakmampuan mengakses sumber-sumber permodalan, juga karena
infrastruktur yang juga belum mendukung untuk dimanfaatkan masyarakat
memperbaiki kehidupannya, selain itu juga karna SDM, SDA, Sistem, dan juga
tidak terlepas dari sosok pemimpin. Kemiskinan harus diakui memang terus
menjadi masalah fenomenal sepanjang sejarah Indonesia sebagai negara bangsa,
bahkan hampir seluruh energi dihabiskan hanya untuk mengurus persoalan
kemiskinan. Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, mengapa masalah
kemiskinan seakan tak pernah habis, sehingga di negara ini, rasanya tidak ada
persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan telah
membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas,
kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi,
kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya
jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus perpindahan
dari desa ke kota dengan tujuan memperbaiki kehidupan, dan yang lebih parah,
kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan
papan secara terbatas. Kemiskinan menyebabkan masyarakat desa rela mengorbankan
apa saja demi keselamatan hidup, kemiskinan menyebabkan banyak orang melakukan
prilaku menyimpang, harga diri diperjual belikan hanya untuk mendapatkan makan.
Si Miskin rela mempertaruhkan tenaga fisik untuk memproduksi keuntungan bagi
mereka yang memiliki uang dan memegang kendali atas sektor perekonomian lokal dan
menerima upah yang tidak sepadan dengan biaya tenaga yang dikeluarkan. Para
buruh bekerja sepanjang hari, tetapi mereka menerima upah yang sangat sedikit.
Bahkan yang lebih parah, kemiskinan telah membuat masyarakat kita terjebak
dalam budaya memalas, budaya mengemis, dan menggantungkan harapannya dari budi
baik pemerintah melalui pemberian bantuan. kemiskinan juga dapat meningkatkan
angka kriminalitas, kenapa penulis mengatakan bahwa kemiskinan dapat
meningkatkan angka kriminalitas, jawabannya adalah karna mereka (simiskin) akan
rela melakukan apa saja untuk dapat mempertahankan hidupnya, baik itu mencuri,
membunuh, mencopet, bahkan jika ada hal yang lebih keji dari itu ia akan tega
dan berani melakukannya demi hidupnya. Kalau sudah seperti ini siapa yang harus
kita salahkan. kemiskinan seakan menjadi sebuah fenomena atau sebuah persoalan
yang tak ada habis-habisnya, pemerintah terkesan tidak serius dalam menangani
persoalan kemiskinan, pemerintah lebih membiarkan mereka mengemis dan mencuri
ketimbang memikirkan cara untuk menanggulangi dan mengurangi tingkat kemiskinan
dan membebaskan Negara dari para pengemis jalanan karna kemiskinan.
Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia
- tahun 1976 sampai
2007.
jumlah penduduk miskin
di Indonesia pada periode 1976-2007 berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada
tahun 1976 penduduk miskin sekitar 54,2 juta jiwa (sekitar 44,2 juta jiwa di
perdesaan, dan sekitar 10 juta jiwa di perkotaan). Angka ini pada tahun 1980
berkurang hingga menjadi sekitar 42,3 juta jiwa (sekitar 32,8 juta jiwa di
perkotaan, dan sekitar 9,5 juta jiwa di perdesaan), atau berkurang sekitar
21,95 persen dari tahun 1976. Pada tahun 1990 jumlah penduduk miskin berkurang
hingga menjadi sekitar 27,2 juta jiwa (sekitar 17,8 juta jiwa di perkotaan, dan
sekitar 9,4 juta jiwa di perdesaan), atau berkurang sekitar 35,69 persen dari
tahun 1980. Pada tahun 1996 jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan hingga
mencapai sekitar 34,5 juta jiwa (sekitar 24,9 juta jiwa di perkotaan, dan
sekitar 9,6 juta jiwa di perdesaan). Dibandingkan dengan tahun 1990, angka ini
menurun sekitar 20,87 persen. Namun, pada tahun 2002 jumlah penduduk miskin
kembali meningkat hingga menjadi sekitar 38,4 juta jiwa. Sementara, pada tahun
2007 jumlah penduduk miskin menurun hingga menjadi sekitar 37.17 juta jiwa.
Fluktuasi jumlah penduduk miskin di Indonesia disebabkan karena terjadinya
krisis ekonomi, pertambahan jumlah penduduk tiap tahun, pengaruh kebijakan
pemerintah dan sebagainya.(Badan Pusat Statistik)
7.
FAKTOR-FAKTOR
PENYEBAB KEMISKINAN
1. Pengangguran
Semakin banyak pengangguran, semakin
banyak pula orang-orang miskin yang ada di sekitar. Karena pengangguran atau
orang yang menganggur tidak bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Padahal kebutuhan setiap manusia itu semakin hari semakin
bertambah. Selain itu pengangguran juga menimbulkan dampak yang merugikan bagi
masyarakat, yaitu pengangguran dapat menjadikan orang biasa menjadi pencuri,
perampok, dan pengemis yang akan meresahkan masyarakat sekitar.
2. Tingkat
pendidikan yang rendah
Tidak adanya keterampilan, ilmu
pengetahuan, dan wawasan yang lebih, masyarakat tidak akan mampu
memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik. Karena dengan pendidikan masyarakat
bisa mengerti dan memahami bagaimana cara untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi kehidupan manusia.
Dengan belajar, orang yang semula
tidak bisa menjadi bisa, salah menjadi benar, dsb. Maka dengan tingkat
pendidikan yang rendah masyarakat akan dekat dengan kemiskinan.
3. Bencana
Alam
Banjir, tanah longsor, gunung
meletus, dan tsunami menyebabkan gagalnya panen para petani, sehingga tidak ada
bahan makanan untuk dikonsumsi dan dijual kepada penadah atau koperasi.
Kesulitan bahan makanan dan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
tidak dapat terpenuhi
8.
KEBIJAKAN
ANTI KEMISKINAN
Kebijakan anti
kemiskinan dan distribusi pendapatan mulai muncul sebagai salah satu kebijakan
yang sangat penting dari lembaga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB,ILO,
UNDP, dan lain sebagainya.
Tahun 1990, Bank Dunia
lewat laporannya World Developent Report on Proverty mendeklarasikan bahwa
suatu peperangan yang berhasil melawan kemiskinan perlu dilakukan secara
serentak pada tiga front : (i) pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya
yang menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi kelompok miskin, (ii)
pengembangan SDM (pendidikan, kesehatan, dan gizi), yang memberi mereka
kemampuan yang lebih baik untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang
diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi, (iii) membuat suatu jaringan pengaman
sosial untuk mereka yang diantara penduduk miskin yang sama sekali tidak mamu
untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan
perkembangan SDM akibat ketidakmampuan fisik dan mental, bencana alam, konflik
sosial, dan terisolasi secara fisik.
Untuk mendukung strategi
yang tepat dalam memerangi kemiskinan diperlukan intervensi-intervensi
pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan perantaranya dapat dibagi
menurut waktu, yaitu :
1. Intervensi
jangka pendek, berupa :
·
Pembangunan/penguatan
sektor usaha
·
Kerjsama regional
·
Manajemen pengeluaran
pemerintah (APBN) dan administrasi
·
Desentralisasi
·
Pendidikan dan
kesehatan
·
Penyediaan air bersih
dan pembangunan perkotaan
·
Pembagian tanah
pertanian yang merata
·
Pembangunan
sektor pertanian, usaha kecil, dan ekonomi pedesaan
·
Manajemen lingkungan
dan SDA
·
Pembangunan
transportasi, komunikasi, energi dan keuangan
·
Peningkatan
keikutsertaan masyarakat sepenuhnya dalam pembangunan
·
Peningkatan proteksi
sosial (termasuk pembangunan sistem jaminan sosial)